Pages

Beli Pengunjung Website Anda
Tampilkan postingan dengan label bank. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bank. Tampilkan semua postingan

07 Maret 2011

Bobol Rp3,6 M, Pegawai BII Dibekuk

Polisi masih memburu pelaku lainnya yang sudah ditetapkan dalam daftar pencarian orang.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap pegawai bagian account officer Bank Internasional Indonesia (BII) Cabang Ekajaya, Mangga Dua Raya, Jakarta Barat. Pegawai itu ditangkap atas dugaan penggelapan dana kredit senilai Rp3,6 miliar.


Penggelapan dana kredit itu melibatkan karyawan berinisial DCB dan peminjam kredit, bernisial HA. "Peminjam kredit masih kita kejar dan masuk daftar pencarian orang," ujar Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yan Fitri, Senin 7 Maret 2011.



Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa (Fismondev) Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Aris Munandar menuturkan, penggelapan dana kredit ini bermula saat HA mengajukan kredit kepada BII sebesar Rp4 miliar melalui DCB, untuk pembelian rumah toko di daerah Tebet, Jakarta Selatan.



Dengan iming-imingi komisi, DCB berusaha membantu HA meloloskan berkas persyaratan yang belakangan diketahui palsu agar pinjaman dari BII bisa disetujui. 



Dengan bantuan DCB, BII menyetujui pinjaman sebesar Rp3,6 miliar dari Rp4 miliar yang diajukan Oktober 2010 lalu. Uang pinjaman itu langsung ditransfer kepada penjual rumah toko yang akan dibeli HA. Dari harga yang disepakati, ternyata masih ada kelebihan pembayaran senilai Rp1 miliar. Dari uang sebesar Rp1 miliar itu, kemudian diberikan Rp140 juta kepada DBC sebagai upah karena turut membantu. 



Kasus pengajuan kredit fiktif diketahui BII saat pembayaran angsuran kedua yang dilakukan HA macet pada Desember 2010. Sejak itu, HA pun menghilang. Bank langsung menelusuri berkas persyaratan kredit milik HA, dan diketahui identitas dalam berkas itu palsu. Dari sini mulai diketahui keterlibatan DCB, karena memanipulasi data pinjaman kredit yang diajukan.



Polisi lalu menangkap DCB di wilayah Tegal, Jawa Tengah, pada 6 Februari 2011. Atas perbuatannya, DCB dijerat dengan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, tentang perbankan dan terancam hukuman penjara lima tahun. Sedangkan HA masih dalam pengejaran.



Sementara itu, ketika ditemui di Polda Metro Jaya, DCB membantah terlibat dalam aksi penggelapan ini. "Saya tidak berkomplot dengan HA. Saya hanya teledor tidak melakukan verifikasi berkas. Ini karena dikejar target bank mencairkan dana pinjaman sebesar Rp5 miliar setiap bulan," ujarnya. 


Diakuinya, tersangka HA selalu menuntut agar pencairan dipercepat dan mengancam akan menggunakan bank lain.  "Saya tidak mau kehilangan nasabah. Langsung saya setujui saja permohonannya," ujar DCB. Mengenai pemberian komisi, DCB mengaku menerima sebesar 100 juta dari HA. "Saya tidak meminta dan HA tidak menjanjikan. Usai pencairan, HA langsung memberikan komisi begitu saja," ujar DCB. (adi)



10 Januari 2011

Rontoknya IHSG Karena Foreign Taking Profit

Keluarnya dana asing dari bursa saham di Indonesia, menjadi penyebab utama koreksi yang terjadi pada indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari ini. Namun koreksi terjadi di hampir semua bursa saham negara-negara emerging market. Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi A. Sarwono kepada detikFinance, Senin (10/1/2011).


"Menurut saya IHSG terkoreksi secara global. Di regional Asia kita lihat hampir semua pasar terkoreksi seperti IHSG. Penyebab utama adalah membaiknya ekonomi AS meski masih terdapat beberapa faktor risiko. Ini menyebabkan 'flight to quality' dari aset-aset di negara emerging market termasuk Indonesia," tutur Hartadi.



Namun menurut Hartadi, koreksi yang terjadi pada IHSG ini hanya bersifat sementara untuk mengambil keuntungan saja atau profit taking. Pada perdagangan hari ini, IHSG ditutup terpuruk poin 152 poin ke level 3.400. Investor asing melakukan aksi jual RP 1,63 triliun.



Di pasar saham para investor sudah mulai khawatir terhadap penurunan indeks yang terjadi. Inflasi yang tinggi karena harga pangan menjadi concern utama para investor pasar modal. Apalagi pemerintah cukup kewalahan menangani kenaikan harga pangan tersebut.



Menanggapi hal tersebut, Hartadi mengatakan sentimen inflasi saat ini dipicu oleh harga minyak dunia yang bakal mendorong kenaikan harga BBM. "Di Indonesia kan BBM sebagian besar sudah tidak disubsidi," jelas Hartadi. Hartadi mengatakan, apabila sudah ada tanda-tanda inflasi inti meningkat, BI tak ragu menaikkan BI Rate.


06 Januari 2011

Rekomendasi Teknikal Harian Phillip Securities

BUY 

AKRA, ANTM, BDMN DAN BRAU

SELL

ADRO, BBCA, BBNI DAN BBRI

Berikut rekomendasi dari tiga sekuritas ternama untuk hari ini.
1. E-Trading Securities



Pada Rabu (5/1), IHSG ditutup naik 23 poin (0,63%) ke level 3.783.71, mendekati level resistance 3.802. Asing tercatat melakukan net buying Rp 280 miliar dengan sektor yang paling banyak dimasuki tambang batubara. Namun, volume volume transaksi menurun dibanding hari sebelumnya, karena investor menunggu keputusan BI rate. Hari ini IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3.730- 3.802 dengan saham-saham pilihan BJBR, BBRI, BDMN, SMCC, dan MPPA.

2. Reliance Securities
Indeks LQ-45 naik 0,69% ke level 677,7 kemarin. Hari ini IHSG rawan profit taking, seiring melemahnya harga sejumlah komoditas. Indeks akan bergerak di kisaran 3.767-3.790 dengan saham pilihan ANTM, ASII, ADRO, PTBA, BDMN, dan BUMI.

3. Kresna Securities
IHSG kembali menguji level tertingginya diikuti oleh peningkatan volume dandiperkirakan akan mencoba menguji resisten FR 261,8% di 3.800. Hari ini IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3.750-3.810 dengan CTRA dan BBRI sebagai saham pilihan.



27 Desember 2010

PLN Dapat Utangan Rp 1,067 Triliun

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mendapat fasilitas pinjaman dari empat bank nasional dengan total mencapai Rp 1,067 triliun. Pinjaman dari sindikasi perbankan ini digunakan untuk proyek Transmisi paket 3.

Keempat bank tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BBNI) serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Dari total nilai pinjaman Rp 1,067 triliun, BCA mengambil porsi Rp 266,9 miliar.

Fasilitas pinjaman dilakukan untuk proyek PLN yaitu proyek pembangunan Transmisi Paket 3 (AREVA) yang termasuk dalam program Fast Track Program 10 ribu MW.

Penandatanganan kerjasama kredit sindikasi dilakukan oleh Presiden Direktur BCA D.E. Setijoso, Direktur Utama Bank Mandiri  BCA  Zulkifli Zaini, Direktur Utama BRI Sofyan Basir, Direktur Business Banking BNI Khrisna R Suparto dan Direktur Utama  PLN Dahlan Iskan di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Senin (27/12/2010).

Setijoso mengatakan, partisipasi BCA merupakan wujud penuh perseroan dalam berbagai pembangunan proyek infrastruktur di Indonesia. Sebelumnya BCA juga ikut berpartisipasi pada beberapa pembiayaan proyek terkait dengan program Fast Track Program 10 ribu MW pada tahun 2008 dan 2009 dengan total partisipasi sebesar Rp 2,4 triliun.

Dikutip dari Whery Enggo Prayogi - detikFinance